You are currently viewing Menentukan Metode untuk Mencegah Kerugian Akibat Kecelakaan

Menentukan Metode untuk Mencegah Kerugian Akibat Kecelakaan

Para ahli telah sekian lama berupaya menyusun dan mengembangkan strategi  pencegahan kecelakaan yang dimulai pada masa Revolusi Industri oleh Herbert William Heinrich, pada tahun 1931 H.W. Heinrich merumuskan model pencegahan kecelakaan dengan menggunakan metode domino yang sekarang kita sebut early domino model.

Dari keterlibatan aspek sosial dan keturunan yang berdampak pada kesalahan manusia mengarah pada terciptanya penyebab langsung, yaitu kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman sebagai penyebab langsung sehingga menyebabkan kecelakaan yang menimbulkan kerugian. Pendekatan ini berbasis  perilaku.

Metode yang ditulis oleh H.W. Heinrich ini memiliki banyak pro kontra karena metode ini  lebih cenderung menyalahkan individu atas kecelakaan yang terjadi ketika manusia menjadi objek terjadinya sebuah kecelakaan. Oleh karena itu, model Domino Heinrich tersebut dimodifikasi oleh Frank E. Bird pada tahun 1970 dengan menambahkan tiga bagian peristiwa yaitu pra-kontak, kontak,  dan pasca-kontak dengan catatan sebagai berikut:

  1. Pra-kontak merupakan tahap pencegahan
  2. Kontak merupakan tahap terjadinya sebuah kecelakaan
  3. Pasca-kontak merupakan tindakan mitigasi agar kecelakaan tersebut tidak menjadi lebih parah atau mengakibatkan kerugian yang besar.

Frank Bird menerapkan pendekatan sistematis. Ketika terjadi kecelakaan, hal itu bermula dari kurangnya kendali manajemen sehingga mempengaruhi penyebab dasar yaitu faktor manusia dan pekerjaan dan menyebabkan kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman yang merupakan penyebab langsung terjadinya kecelakaan.

Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian. Masih banyak penerus para ahli dalam menangani metode pencegahan kecelakaan, seperti diagram Isikawa yang terkenal dengan diagram tulang ikan sebagai dasar untuk mencari faktor penyebab yang dominan.

Terdapat pula model SHELL oleh Hawkin yang kita sebut dengan teori miss match yang meliputi S = System, H = Hardware, E = Environmental, dan L = Liveware. Teori ini lebih banyak digunakan dalam dunia penerbangan.

Ada  model Swiss Cheese yang menekankan bahwa kecelakaan terjadi karena lemahnya penghalang atau sistem pertahanan. Dalam pemaparannya pada webinar Allsys Sharing Session Batch 1 (Jumat, 12 Januari 2024) dengan tema “LOSS PREVENTION (Incident Prevention)”, Alwahono lebih lanjut menjelaskan bahwa pertahanan atau pencegahan kecelakaan ini lebih menitikberatkan pada analisis manajemen risiko keselamatan yang akurat dan komprehensif, yang disebut dengan Kerangka Investigasi Insiden/Pencegahan Kecelakaan Berbasis Risiko, yang komponennya meliputi keterlibatan organisasi, keamanan, manajemen risiko yang berdampak pada gejala  symtom pada situasi dan kondisi, tindakan manusia, dan kegagalan teknis.

Jika organisasi berhasil dalam melakukan mitigasi risiko dimulai dari at risk behaviour dan near miss, maka dampaknya kecelakaan dapat dicegah. Namun sebaliknya jika organisasi tidak meminimalisir risiko, maka akan timbul kerugian akibat kecelakaan.

Gambar diambil dari materi ASK (Allsys Sharing Knowledge), 12 Januari 2024

 

  • Dikutip dari Webinar Allsys Sharing Knowledge ( Alwahono, MBA., MOHS)
  • Ditulis Kembali oleh Division Head Allsys Training Center (Agung Budiarto)
  • Disunting oleh Tim Allsys Solutions (MMS, PAS, SA, AS, AR)

Tinggalkan Balasan

4 × 5 =